Tour Guide dan Pemandu Kunjungan ke Kampung Adat Naga

shares

Beberapa waktu yang telah lewat Pemandu Wisata terbaik dan paling berpengalaman di Garut yatiu HDG Team Trip Planner melaksanakan tour 3 hari 4 malah untuk para wisatawan siswa dan siswi DIS Jakarta (Deutsche Internationale Schule) ke Kampung Naga di perbatasan Tasik - Garut. Pilihan menginapnya di Kampung Sumber Alam Garut dan jalan-jalan ke berbagai lokasi menarik sesuai dengan rekomendasi HDG Team saat melaksanakan Presentasi ke sekolah internasional tersebut.

Sebagai bahan dan informasi awal, kita harus mengetahui seperti apa Sejarah Kampung Naga serta Adat Istiadat dan kebiasaannya. Sebagai Tour Guide Garut terbaik dan paling berpengalaman di lapangan kami bukan sekadar menawarkan jasa ataupun membanggakan sertifikasi akan tetapi berbagi pengalaman sesungguhnya di lapangan dengan memberikan info valid dan akurat berbagai kegiatan berikut data dokumentasi pendukung baik foto maupun Video saat menjadi Pemandu Wisata Kampung Naga Tasikmalaya, karena jumlah teamnya yang banyak dan lengkap hampir di semua tempat wisata populer di Garut seperti Tour Guide Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, Gunung Guntur dan beberapa lokasi rekreasi terkenal lainnya..






Sejarah Kampung Naga Garut - Tasikmalaya

KAMPUNG NAGA yaitu salah satu kampung kebiasaan dari demikian kampung-kampung kebiasaan yang ada di Jawa barat serta tetap masih melestarikan kebudayaan serta kebiasaan leluhurnya. Kampung Naga sendiri terdapat di Desa Neglasari Kecamatan Salawu kabupaten Tasikmalaya yang tepatnya ada di antar jalan raya yang menghubungkan pada daerah Garut dengan Tasikmalaya serta ada pas di suatu lembah yang subur yang dilewati oleh suatu sungai bernama sungai Ciwulan yang bermata air di Gunung Cikuray Garut. Jarak dari Kampung Naga ke kota Tasikmalaya sendiri seputar 30 km. untuk meraih kampung Naga yang penduduknya memeluk agama Islam ini mesti lewat medan jalan yang lumayan terjal yaitu mesti menuruni anak tangga sampai sungai Ciwulan dengan kemiringan tanah seputar 45 derajat.

Yang bikin Kampung Naga ini unik yaitu lantaran masyarakat kampung ini seperti tak dipengaruhi dengan modernitas serta tetap masih memegang teguh kebiasaan istiadat yang dengan cara turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka. Uniknya lagi, lantaran areal Kampung Naga yang terbatas sampai tidak memungkinkannya lagi membangun rumah di kampung itu, banyak masyarakat Kampung Naga selanjutnya menebar ke beragam penjuru daerah seperti ke Ciamis serta bahkan juga Cirebon namun masyarakat yang tidak lagi berdiam di Kampung Naga ini tetap harus masih tetap menjunjung tinggi warisan kebiasaan budaya leluhurnya. Bila pada hari-hari spesifik Kampung Naga bakal diadakan umpamanya kebiasaan serta upacara sa-Naga yang dipusatkan di Kampung Naga jadi masyarakat yang tidak lagi tinggal di kampung ini juga bakal menyempatkan ada untuk turut berperan serta dalam perayaan atau upacara kebiasaan itu.

Nenek moyang Kampung Naga sendiri konon yaitu Eyang Singaparana yang makamnya sendiri terdapat di suatu rimba disamping barat Kampung Naga. Makam ini dikira keramat serta senantiasa diziarahi oleh keturunannya yaitu warga Kampung Naga ketika mereka bakal melakukan upacara-upacara kebiasaan atau yang lain. Kepatuhan warga Kampung Naga sendiri dengan terus menyambangi makam leluhurnya ini sekalian menjaga upacara-upacara kebiasaan, termasuk gaya hidup mereka yang terus sesuai dengan kebiasaan leluhurnya seperti dalam soal religi serta upacara, mata pencaharian, pengetahuan, kesenian, bhs serta hingga pada peralatan hidup (alat-alat rumah tangga, pertanian serta transfortasi) dsb dengan basic lantaran mereka demikian menghormati budaya serta tata langkah leluhurnya. Mereka terus kukuh dalam memegang teguh falsafah hidup yang diwariskan nenek moyangnya dari generasi ke generasi selanjutnya, dengan terus menjaga eksistensi mereka yang khas. Rutinitas yang dikira bukanlah datang dari nenek moyangnya dikira tabu untuk dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Pelanggaran pada ketetapan itu dikira juga sebagai pelanggaran kebiasaan yang bisa membahayakan bukanlah saja untuk si pelanggar, namun juga untuk semua isi Kampung Naga serta untuk beberapa orang sa-Naga.






Disamping pola hidup serta pola kebersamaan mereka yang tidak kalah unik dari Kampung Naga yaitu susunan bangunan rumah mereka. Kekhasan itu tercermin dari bentuk bangunan yang tidak sama dari bangunan biasanya termasuk juga letak, arah rumah sampai beberapa bahan yang membuat rumah itu seluruhnya sesuai dengan alam serta demikian khas. Dengan ketinggian kontur tanah yang berlainan di setiap tempat, jadi rumah-rumah di Kampung Naga di buat berundak-undak ikuti kontur tanah. Jejeran rumah yang satu lebih tinggi dari rumah yang lain dengan pembatas sangked-sangked batu yang disusun sedemikian rupa sampai bikin tanah yang diatas walau ada bangunannya tak gampang longsor ke bawah serta menerpa rumah yang ada di bawahnya. Seputar kampung juga dipagari dengan tanaman (pohon bambu) sampai membuat pagar hidup yang demikian asri.

Dipandang dari bentuk perkampungannya, masyarakat Kampung Naga sangatlah erat kekerabatannya. Hal semacam itu tercermin dari pola rumah yang sama-sama berkelompok serta sama-sama berhadap-hadapan dengan tanah lega ditengah-tengah juga sebagai areal bermain anak-anak. Semua rumah serta bangunan-bangunan yang ada atapnya memanjang arah barat ke timur, pintu masuk kampung terdapat di samping timur, menghadap ke sungai Ciwulan sampai bila dipandang dari ketinggian bakal tampak demikian indah serta mengingatkan kita pada atap-atap rumah di Tiongkok masa kungfu dahulu. Dibagian samping barat lega ada bangunan masjid serta pancuran, sejajar dengan masjid ada bangunan yang dikira suci yang diberi nama Bumi Ageung, suatu bangunan rumah tempat menaruh beberapa barang pusaka dan rumah kuncen (Kepala Kebiasaan). Diluar itu, ada bangunan tempat menaruh hasil pertanian berbentuk padi yang dimaksud leuit.



Lebih jauh, menilik gaya hidup serta kepemimpinan Kampung Naga kita bakal memperoleh kesesuaian antar dua pemimpin dengan tugasnya semasing yakni pemerintahan desa serta pemimpin kebiasaan atau yang oleh masyarakat Kampung Naga dikatakan sebagai Kuncen. Peran keduanya sama-sama bersinergi keduanya untuk maksud keselarasan warga Kampung Naga. Pola kepemimpinan seperti ini mengingatkan saya pada pola kepemimpinan ulama serta umarah. Sang kuncen yang walau demikian berkuasa dalam soal kebiasaan istiadat bila terkait dengan system pemerintahan desa jadi mesti patuh serta taat pada RT atau RK, juga demikian sebaliknya, Pak RT serta Pak RK juga harus patuh pada sang Kuncen jika punyai urusan dengan kebiasaan istiadat serta kehidupan kerohanian.


Berpindah ke sistem kesenian Kampung Naga, kita bakal bersitatap dengan beragam kesenian tradisional yang terus dilestarikan keasliannya yang diantaranya seperti kesenian terbangan, angklung, serta beluk. Kesenian-kesenian ini umumnya bakal dipertunjukkan bilamana warga Kampung Naga tengah melakukan beragam upacara-upacara kebiasaan seperti upacara sasih, upacara berziarah ke pendam keramat nenek moyang serta upacara yang terkait dengan bulan-bulan suci atau agung dalam Islam, umpamanya bln. Muharram, Maulud, hari Raya Idul Fitri, dsb. Walau demikian, kesenian ini juga sering kali dipentaskan bukan sekedar untuk menemani upacara-upacara kebiasaan namun juga ketika hajatan perkawinan serta khitanan sebagi fasilitas hiburan sekalian penyemarak pesta. 


Sebagai salah satu Tempat Wisata di Garut yang cukup diminati oleh turis lokal dan mancanegara, Kampung Naga mempunyai beberapa aturan baku dari mulai jadwal kedatangan serta tarif pemandu wisata dan Guide lokal disana. Untuk detail informasi bagi rombongan yang akan melaksanakan Paket Wisata ke Kampung Naga Garut Tasik bisa langsung menghubungi CV Hotel di Garut di alamat website www.hoteldigarut.net ataupun kepada pemandu wisata terbaik di Garut HDG Team Trip Planner di website www.hdgteam.com

Related Posts

0 comments:

Post a Comment