Situ Cangkuang Tempat Wisata di Garut

shares

Nama Situ Cangkuang sebagai salah satu Tempat Wisata di Garut memang sudah sejak puluhan tahun yang lau dikenal orang.Biarpun Situ ini tidak begitu besar,namun setelah kita menyeberang Danau Cangkuang ini,kita bisa sampai dan melihat sebuah candi yang juga bernama Cangkuang.

Wisata di Garut yang berada di Kecamatam Leles ini telah menjadi sebuah objek Wisata Garut yang pantas dan layak anda kunjungi bisa kebetulan singgah dan datang ke kota ini.

Danau kecil atau oleh masyarakat lokal dimaksud dengan situ jadi satu pembuka waktu beberapa pelancong menapakkan kakinya di Situ Cangkuang. Bentangan danau yang ditumbuhi beberapa ratus bunga teratai liar memagari pulau seberang seakan membawa pelancong masuk gerbang surga keindahan alam yang di ciptakan oleh Tuhan, surga yang segera dapat di nikmati oleh mata telanjang manusia. Belum lagi hawa pagi dengan susunan kabut tipisnya menyapu bibir lokasi itu seakan tahu apa yang di cari oleh pelancong.


Situ Cangkuang terdapat di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ada di satu lokasi perbukitan kecil yang mempunyai ketinggian 695-706 mtr. dpl dan berdiri di lembah seluas 16, 5 ha yang berhawa sejuk. Situ yang di kelilingi gugusan gunung di empat penjuru mata anginnya seperti Gunung Mandalawangi, Gunung Kaledong, Gunung Halimun, Gunung Batara Guru, Gunung Guntur serta Gunung Cikuray jadikan situ Cangkuang sebagai pemikat alam yang tawarkan keindahan yang mengagumkan.

Berkunjung ke Situ Cangkuang tak sekedar hanya nikmati sajian alam yang menawan. Tetapi romantisme Hindu serta Islam yang pernah tergali dari website candi yang diketemukan di dalam Situ Cangkuang. Candi bercorak Hindu ini diketemukan pada th. 1966 oleh tim peneliti Harsoyo serta Uka Candrasasmita berdasar pada atas laporan yang ditulis Vorderman dalam buku notulen Bataviaasch Genootshap (terbit th. 1893). Dalam tulisan itu disinggung mengenai temuan satu arca (Hindu) di sekitaran situ serta satu makam keramat yang yakini sebagai Embah Dalam Arif Muhammad yang begitu dihormati oleh masyarakat setempat.

Candi Cangkuang seperti yang tampak saat ini, sebenarnya yaitu hasil rekayasa rekonstruksi yang diresmikan pada th. 1978. Sebab bangunan aslinya cuma tinggal 35 persenan, sedang bentuk bangunan Candi Cangkuang yang asli sesungguhnya belum di ketahui. Nama Candi Cangkuang di ambil dari nama desa di mana candi itu diketemukan. Sedang desa Cangkuang sendiri datang dari nama pohon yang tumbuh subur di sekitaran makam Embah Dalam Arif Muhammad, namanya pohon Cangkuang. Termasuk juga tanaman type pandan (Pandanus Furcatus), jaman dulu daunnya bisa dipakai untuk bikin tikar ataupun untuk pembungkus gula aren.

Konon ceritanya Embah Dalam Arif Muhammad adalah panglima perang dari kerajaan Mataram. Berbarengan prajuritnya mereka coba menyerang tentara VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia saat ini Jakarta. Tetapi alami kekalahan, oleh karena itu Embah Dalam Arif Muhammad berbarengan pengikutnya terasa malu untuk pulang ke kerajaan Mataram. Dalam perlariannya mereka pada akhirnya mengambil keputusan untuk menetap di lokasi Cangkuang yang saat itu penuh dengan pemeluk keyakinan animisme serta Hindu.

Berbarengan pengikutnya, Embah Dalam Arif Muhammad lalu menebarkan agama Islam dengan arif serta bijaksana. Embah Dalam Arif Muhammad lalu menikah dengan seseorang puteri cantik jelita yang tinggal di lokasi itu, tetapi puteri itu memohon satu prasyarat yang perlu dipenuhi oleh sang calon suaminya. Membikinkan satu danau yang melingkari desanya. Dengan kemampuan yang dipunyai Embah Dalam Arif Muhammad pada akhirnya dapat wujudkan. Mereka lalu menikah serta dikaruniai enam anak wanita. Ke enam anaknya berikut sebagai cikal akan berdirinya kampung kebiasaan Pulo. Pemukiman warga yang cuma terbagi dalam enam tempat tinggal serta ada pas di belakang Candi Cangkuang.

Untuk meraih ke website Cangkuang, beberapa pelancong bakal selekasnya disambut dengan rakit-rakit bambu yang siap mengantarkan sampai ke pulau seberang. Dengan membayar Rp 3. 000, beberapa pelancong bakal rasakan sensasi gelombang air danau selama 500 mtr.. Bila mujur beberapa pelancong dapat lihat kesibukan warga yang menjaring ikan. Dengan ketrampilannya, mereka hilir mudik diatas rakit sembari menyebar jala. Sekitaran 10 menitan Anda telah meraih pulau itu. Dengan membayar Rp 2000 untuk restribusi masuk ke website Candi Cangkuang serta Kampung kebiasaan Pulo. Anda dapat menelusuri kembali romantisme yang dahulu terbangun pada Islam-Hindu.

Desa Cangkuang terdapat disamping utara Kabupaten Garut masuk Kecamatan Leles, tepatnya 16 km dari Garut atau 54 km dari Bandung. Untuk meraih website Cangkuang bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Dari Jalan Raya Bandung - Tasikmalaya, kurang lebih 9 km meninggalkan Bandung, tak jauh dari turunan Nagrek bakal temukan persimpangan menuju Kabupaten Garut atau jantung kota Garut.

Setibanya di alun-alun Kecamatan Leles, ada satu papan panduan yang pasti serta mengarahkan beberapa pelancong ke tempat website Cangkuang. Masuk kedalam sejauh lebih kurang 3 km, kendaraan roda empat atau angkutan umum masihlah dapat melalui jalan ini. Beberapa pelancong dapat juga pilih angkutan ojek, delman (angkutan tradisional yang ditarik dengan kuda) atau jalan sepanjang 30 menit sambil nikmati deretan gunung Gunung Mandalawangi serta Gunung Guntur yang menjulang tinggi. Selang beberapa saat pelancong selekasnya disambut dengan gapura yang tidaklah terlalu besar yang mengisyaratkan Selamat Datang di situ Cangkuang.

Cukup banyak juga wisatawan asing yang berkunjung ke Tempat Wisata di Garut Candi Cangkuang ini dari sejak dahulu kala.Karena ini adalah kawasan Objek Wisata Garut yang usianya sudah lama banget.

Related Posts

0 comments:

Post a Comment